![]() |
| kasir | foto : pexels |
Pertama Kali Pakai QRIS
![]() |
| scan QR Code | foto : pexels |
![]() |
| kafe | foto : pexels |
Kafe itu terlihat rapi, tenang, dan nyaman,sangat pas untuk berbincang ringan setelah berpusing ria. Salah seorang temanku sudah membuka pintu kaca yang bertuliskan “geser” tersebut. Terlihat pegawai kafe yang sigap berdiri dan menuju pos masing-masing ketika melihat tamu baru datang. Seorang perempuan yang berdiri di belakang meja kasir menyodorkan kertas menu pada salah seorang temanku. Sementara ketiga temanku sibuk memilih menu, aku di belakang mereka sok sibuk mengotak-atik ponsel seakan sedang menerima pesan, padahal aku hanya menggeser-geser layar ponsel saja sambil berpikir cara mengatasi masalah ini. Tanpa sadar aku menekan salah satu aplikasi secara acak, dan ternyata itu adalah aplikasi e-wallet. Oh iya, beberapa hari lalu aku baru saja mendaftarkan akun untuk membuat qris bisa di-scan. Untunglah, saldo yang tertera masih banyak. Aku menghela napas lega, tetapi apakah kafe sederhana ini menerima pembayaran non-tunai? Aku memandang sekitar berharap ada QR Code yang bisa di-scan untuk melakukan transaksi, beberapa saat kemudian aku menemukan sebuah QR Code cetak tepat di depan kakak penjaga kasir. Ketika semua teman-temanku sudah memutuskan pesanan mereka, aku mulai membaca menu dan langsung memutuskan pesanan, segelas hot chocolate, membayangkan manisnya aroma kakao saja sudah membuatku bersemangat.
Sebelum memesan, aku bertanya kepada kakak yang bertugas di bagian kasir apakah bisa membayar menggunakan qris karena aku khawatir jika aplikasinya sedang error. Leganya, kakak itu menjawab bisa dan aku langsung menyatakan pesananku. Eh, tapi jujur saja ini adalah kali pertama aku menggunakan metode pembayaran non-tunai. Saat kakak tersebut sudah menyebutkan total nominal yang harus dibayar saja, aku masih sibuk mengutak-atik aplikasi e-wallet tersebut. Karena putus asa tidak kunjung menemukan kamera untuk memindai QR Code, aku memutuskan untuk bertanya kepada kayak itu sambil menunjukkan layar ponselku.
“Silakan di scan.” ujar kakak itu ketika kamera untuk memindai sudah menyala. Dengan senang hati aku mengarahkan kamera ponselku ke QR Code yang sudah disediakan, kemudian mengetikkan nominal yang telah disebutkan oleh pegawai kasir tersebut, pembayaran berhasil! Aku tidak menyangka ternyata transaksi non-tunai dengan qris semudah ini.
“Ini sudah, mbak?” Tanyaku untuk memastikan. Yah, wajar saja karena ini kali pertamaku.
“Iya kak, pembayaran sudah kami terima. Silakan tunggu pesanan kakak di meja, nanti akan kami antarkan.” titah kakak itu ramah, leganya. Setelah seluruh transaksi selesai, aku menyusul teman-teman yang sudah duduk di kursi sebelah jendela dan mulai bercakap-cakap.
Jadi begitulah pengalaman pertamaku menggunakan qris. Agak memalukan tapi karena peristiwa ini aku jadi lebih tahu soal teknologi pembayaran non-tunai. Oh iya, untuk pembaca sekalian yang belum tahu, qris adalah proses pembayaran non-tunai menggunakan QR Code yang dikembangkan oleh Bank Indonesia. Siapa saja bisa dengan mudah menggunakan qris dengan metode scan and pay. Konsumen tidak perlu lagi menunggu kasir menghitung uang kembalian atau menunggu kasir menukarkan uang konsumen untuk mendapat pecahan kembalian.
Layanan utama dari sooltanPay yang sesuai dengan perkembangan zaman saat ini adalah Qris. Transaksi secara digital sedang gencar gencarnya berkembang di masyarakat, generasi era baru sangat menyukai kemudahan dan kepraktisan khususnya untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Hanya dengan scan and pay QR Code dari Qris transaksi bisa lebih mudah, tidak akan ada lagi antrian panjang dan pelayanan lambat hanya karena konsumen menunggu kembalian dari penjual atau hanya karena konsumen mencari uang tunai untuk membayar belanjaannya. Penjual maupun pedagang tidak perlu khawatir apabila transaksi tidak berhasil atau saldo hilang entah kemana karena SooltanPay telah terintegrasi dengan Bank Indonesia.
Sebelum memesan, aku bertanya kepada kakak yang bertugas di bagian kasir apakah bisa membayar menggunakan qris karena aku khawatir jika aplikasinya sedang error. Leganya, kakak itu menjawab bisa dan aku langsung menyatakan pesananku. Eh, tapi jujur saja ini adalah kali pertama aku menggunakan metode pembayaran non-tunai. Saat kakak tersebut sudah menyebutkan total nominal yang harus dibayar saja, aku masih sibuk mengutak-atik aplikasi e-wallet tersebut. Karena putus asa tidak kunjung menemukan kamera untuk memindai QR Code, aku memutuskan untuk bertanya kepada kayak itu sambil menunjukkan layar ponselku.
“Silakan di scan.” ujar kakak itu ketika kamera untuk memindai sudah menyala. Dengan senang hati aku mengarahkan kamera ponselku ke QR Code yang sudah disediakan, kemudian mengetikkan nominal yang telah disebutkan oleh pegawai kasir tersebut, pembayaran berhasil! Aku tidak menyangka ternyata transaksi non-tunai dengan qris semudah ini.
“Ini sudah, mbak?” Tanyaku untuk memastikan. Yah, wajar saja karena ini kali pertamaku.
“Iya kak, pembayaran sudah kami terima. Silakan tunggu pesanan kakak di meja, nanti akan kami antarkan.” titah kakak itu ramah, leganya. Setelah seluruh transaksi selesai, aku menyusul teman-teman yang sudah duduk di kursi sebelah jendela dan mulai bercakap-cakap.
Jadi begitulah pengalaman pertamaku menggunakan qris. Agak memalukan tapi karena peristiwa ini aku jadi lebih tahu soal teknologi pembayaran non-tunai. Oh iya, untuk pembaca sekalian yang belum tahu, qris adalah proses pembayaran non-tunai menggunakan QR Code yang dikembangkan oleh Bank Indonesia. Siapa saja bisa dengan mudah menggunakan qris dengan metode scan and pay. Konsumen tidak perlu lagi menunggu kasir menghitung uang kembalian atau menunggu kasir menukarkan uang konsumen untuk mendapat pecahan kembalian.
Qris bisa menerima pembayaran dari mana saja, jadi konsumen tidak perlu khawatir pesanannya dibatalkan karena terlambat membayar.Tidak perlu khawatir soal uang dalam e-wallet karena qris diawasi langsung oleh bank Indonesia sehingga terjamin keamanannya. Konsumen tidak perlu khawatir tentang biaya admin atau biaya tambahan lainnya seperti saat bertransaksi antar bank, biaya qris 0% dengan kata lain qris sama sekali tidak mematok biaya tambahan apapun. Bagi pelaku usaha tetap ditetapkan pajak dengan metode perhitungan persentase merchant discount rate (MDR).Tidak hanya bisnis besar saja yang dapat menerapkan qris, UMKM (usaha mikro kecil menengah) juga bisa menerapkan metode pembayaran digital ini, salah satu aplikasi yang mendukung kemajuan bisnis UMKM adalah SooltanPay.
Apa itu SooltanPay?
![]() |
| logo sooltanPay | foto : SooltanPay |
SooltanPay adalah aplikasi usaha yang memberikan kemudahan bagi para pelaku bisnis. SooltanPay hadir dengan berbagai fitur yang sangat membantu manajerial penjualan toko, antara lain pembayaran via Qris yang sudah terintegrasi dengan Bank Indonesia, Top Up dan tagihan untuk tambahan penghasilan dan Produk Toko Aplikasi kasir yang membantu pencatatan transaksi produk secara rapi dan digital.
Layanan utama dari sooltanPay yang sesuai dengan perkembangan zaman saat ini adalah Qris. Transaksi secara digital sedang gencar gencarnya berkembang di masyarakat, generasi era baru sangat menyukai kemudahan dan kepraktisan khususnya untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Hanya dengan scan and pay QR Code dari Qris transaksi bisa lebih mudah, tidak akan ada lagi antrian panjang dan pelayanan lambat hanya karena konsumen menunggu kembalian dari penjual atau hanya karena konsumen mencari uang tunai untuk membayar belanjaannya. Penjual maupun pedagang tidak perlu khawatir apabila transaksi tidak berhasil atau saldo hilang entah kemana karena SooltanPay telah terintegrasi dengan Bank Indonesia.




Comments
Post a Comment